Sunday, December 3, 2006

KOK SALAM TEMPELNYA SERIBU, OM?"

Namanya juga anak-anak kadang-kadang membuat kita jengkel, marah dan mengernyitkan dahi dengan segala polahnya. Seperti halnya dengan yang aku alami saat Lebaran kemarin. Aku kedatangan para “pasukan super rese.” Begitu aku menyebutnya untuk keponakan-keponakanku yang nakal-nakal (tapi mengemaskan) itu. Memang kalau mereka itu bertandang kerumah pasti saja mereka bikin ulah dirumah. Rumah kami pasti mereka sulap menjadi kapal pecah. Yup, begitu jika para pasukan rese itu bertandangan kerumahku. Mau dikata apa toh mereka itu keponakan aku juga. Mau dicubit nanti nangis, mau di jewer keponakan aku juga....terus mengadu pada orang tuanya. Lalu aku yang lantas dimarahi dan dinasehati sama kakak-kakakku. Dasar nasib beginilah menjadi Om! Dikasih nasehat dan pengertian sama keponakannya malah sebaliknya! Om-nya yang kena dikasih nasehat sama orangtuanya. Apes!
Pukul sepuluh pagi lewat, saat kami sekeluarga menyelesaikan ritual hari Raya Idul Fitri 1427 H : shalat Ied, bersalam-salaman dan menyekar ke makam keluarga, lalu kembali ke rumah tiba-tiba pasukan super rese itu bertandangan kerumahku. Maklumlah rumahku yang paling dituakan dikeluaraga (baca: nenek). Jadi segala aktivitas menyabut Lebaran kali ini semua disentralkan di rumahku. Ditambah para pasukan rese itu (baca: anak-anak dari kakak-kakakku ) dirumah. Klop! Tambah ramai. Dan tambah bising!
“Assalamualikum……,” koor para tamu tak undang. Tak lain tak bukan pasukan super rese berdatangan kerumahku bersama induk-induknya (orangtuanya) .
“Waalaikumsalam……,” sambut kami sekeluraga. Dan kami pun saling berpelukan satu sama lain. Bertumpah ruah menjadi satu untuk mengeluarkan segala maaf yang ada dihati masing-masing. Aku pun juga tak mau ketinggalan untuk meminta maaf pada kakak-kakakku yang sudah banyak membuat ulah dan menyusahkan mereka sewaktu aku kecil dulu. Tapi situasi itu tak berlangsung lama. Saat aku lagi sedang asyik-asyiknya besalam-salaman pada kakak-kakkakku tiba-tiba bajuku ada yang menarik-narik. Aku pun jadi tak leluasa untuk bergerak akhirnya aku pun menoleh siapa yang menarik-narik bajuku. Ternyata yang menarik bajuku itu adalah keponakan-keponakanku dengan tatapan seperti debt collector sambil menengadah tangannya.
“ Om …om…, bagi duitnya dong? Kok, Om nggak ngasih duit kekita-kita kayak nenek! Om , pelit nih…,” serentak suara gaduh para keponakanku. Menagih gilirannya. Tak lain meminta uang kepadaku.
“Ya, ya sebentar nanti Om ambil duitnya dulu,” kataku sambil masuk kedalam kamar.
“Nih, Om kasih! Tapi Amri. Izal, Maulana, Prita, Ratna, Sayuti dan Danang jangan berisik lagi ya?” sambil mengabsenin mereka satu-satu tanganku menutup mulut agar para pasukan rese ini mau menurutinya. Karena aku sudah tak tahan dengan suara ember pecah dari mereka. Bikin telinga pecah!
“Baik, baik Om,” jawabnya serentak sambil berbaris rapi. Seperti orang mengantri tiket.
“Oke, sekarang semua berbaris yang rapi!” seruku. Akhirnya mereka pun mau menuruti dan meniruku walau terpaksa mereka lakukan karena aku akan membagi uang kepada mereka.
“Sekarang Om memanggil yang lebih gede dulu ya? Nanti baru menyusul yang kecil-kecil.”
Tidak beberapa lama kemudian setelah acara pembagian salam tempel itu usai apa yang terjadi saat aku memberi uang kepada mereka. Mereka pada memprotes diriku. Apalagi yang paling vocal adalah keponakanku yang kecil-kecil memprotes kepadaku.
“Lho, Om kok salam tempelnya seribu? Dapat apaan nih kalau Om kasih duitnya cuma seribu,” koor mereka memprotes segala ketidaknyaman terhadap pembagian salam tempel.
“Ya, namanya juga Om nggak kerja jadi Om bisanya cuma ngasih seribu,” jawabku serba salah. Mau dikata apa aku tak bisa memberi lebih untuk mereka. Itu pun juga aku lakukan agar mereka senang. Daripada tidak!
“Kalau begitu Lebaran besok kita jangan minta duit lagi sama Om Iyan! Ngasihnya cuma seribu!” timpal polos keponakanku yang paling kecil. Namun aku hanya bisa tersenyum pada mereka. Ternyata mereka juga bisa mengeluarkan pendapatnya masing-masing. Tidak melempen. Diberi diam saja. Ya, walau itu tidak enak didengar.
Begitulah hari Raya Lebaranku kepada keponakan-keponakanku yang super nakal tapi menggemaskan dan merindukan hati. Walau pada hari Raya kali ini terjadi insiden yang hampir aku tak kuat meladeni mereka karena begitu pro-aktifnya mereka dalam pembagian salam tempel***
(Tulisan ini dimuat di Milist Sekolah-Kehidupan.Com sebagai Artikel Terpilih Setiap Bulannya)

No comments: