Beberapa waktu lalu saya menyerahkan cerpen ke teman-teman untuk dikritisi. Entah cerpen yang saya buat baik atau tidak? Layak atau dibuang saja.
Menurut mereka cerpen saya benar-benbar mengecewakan!” Pilihan kata dalam cerpen yang kamu pakai anggak matching. Taburan kata dalam cerpen kamu terlalu baku, harfiah, tekstual dan kaku!”
Begitulah yang terjadi ketika seorang penulis belum piawai memilih dan memilah kata!
Wow! Ternyata pilihan kata atau diksi dalam cerita tidak bedanuya dengan pilihan warna dalam dunia seni rupa: betapa indah lukidan jika dalam komposisi warnanya tepat. Ia menjadi jiwa dalam tema yang kita bidik dan tiap-tiap kata hendaknya mampu mewakili setiap adengan. Tidak berlebihan seorang Joni Araiadinta mengatakan “penulis itu harus menenal dan mengusai betul arti kata yang digunakan agar tidak mengecewakan pembacanya!”
Hal ini yang lazim dalam dunia sastra, banyak penulis-penulis besar berulang kali mencoret naskahnya. Bahkan tidak jarang mereka membuang ke tong sampah setelah susah payah menulis. Sebabnya sipenulis itu tidak puas melihat dan merasakan kata-kata yang ditulisnya. Ia merasa belum berhasil memindahkan Susana cerita kedalam rangkaian kata. Disinilah penulis menyadari bahwa seorang pembaca akan mendapat nuansa lain tentang cerita saat dirinya mampu memilih kata dengan tepat.
Menurut saya, sah-sah saja kita menggunakan kata-kata piuits, metafora, hiperbola atau bersifat etnis, religi, sains hingga penggunan kata sehari-hari agar cerita lebih dekat denga pembacanya.
Hal lain yang harus diperhatikan sebaiknya kita hati-hati dengan kata yang tidak menguatkan cerita. Kata yang terangkai dalam kaimat panjang juga akan membosankan dan membuat cerita sama sekali tidak “bertenaga.’
Ok! Mulai sekarang sebaiknya kata tidak bisa kita anggap sebagai ”tetangga” tetapi harus dikenal secara “sahabat” agar ia menjadi hidup dengan sendirinya! Bagi kita harus banyak membaca karya orang lain merupakan salah satu cara untuk bersahabat dengan diksi. Tapi kita jangan terjebak melakukan tindak plagiat.
Sementara cara lain yang cukup efektif adalah dengan terus menulis. Berusaha mempertahankan ide kedalam kata-kata sehingga pemakaian diksi kita semakin mengalami pematangan.
Dan seperti cermin kata dalam cerita merupakan tampilan ide kita agar mampu melihat dengan jernih. Tentu kita tidak ingin memiliki cermin buram kan?”
(Tulisan Ini Di Muat Di Majalah ANNIDA edisi No.8/XV/ 15 April- 15 Mei 2006)
Menurut mereka cerpen saya benar-benbar mengecewakan!” Pilihan kata dalam cerpen yang kamu pakai anggak matching. Taburan kata dalam cerpen kamu terlalu baku, harfiah, tekstual dan kaku!”
Begitulah yang terjadi ketika seorang penulis belum piawai memilih dan memilah kata!
Wow! Ternyata pilihan kata atau diksi dalam cerita tidak bedanuya dengan pilihan warna dalam dunia seni rupa: betapa indah lukidan jika dalam komposisi warnanya tepat. Ia menjadi jiwa dalam tema yang kita bidik dan tiap-tiap kata hendaknya mampu mewakili setiap adengan. Tidak berlebihan seorang Joni Araiadinta mengatakan “penulis itu harus menenal dan mengusai betul arti kata yang digunakan agar tidak mengecewakan pembacanya!”
Hal ini yang lazim dalam dunia sastra, banyak penulis-penulis besar berulang kali mencoret naskahnya. Bahkan tidak jarang mereka membuang ke tong sampah setelah susah payah menulis. Sebabnya sipenulis itu tidak puas melihat dan merasakan kata-kata yang ditulisnya. Ia merasa belum berhasil memindahkan Susana cerita kedalam rangkaian kata. Disinilah penulis menyadari bahwa seorang pembaca akan mendapat nuansa lain tentang cerita saat dirinya mampu memilih kata dengan tepat.
Menurut saya, sah-sah saja kita menggunakan kata-kata piuits, metafora, hiperbola atau bersifat etnis, religi, sains hingga penggunan kata sehari-hari agar cerita lebih dekat denga pembacanya.
Hal lain yang harus diperhatikan sebaiknya kita hati-hati dengan kata yang tidak menguatkan cerita. Kata yang terangkai dalam kaimat panjang juga akan membosankan dan membuat cerita sama sekali tidak “bertenaga.’
Ok! Mulai sekarang sebaiknya kata tidak bisa kita anggap sebagai ”tetangga” tetapi harus dikenal secara “sahabat” agar ia menjadi hidup dengan sendirinya! Bagi kita harus banyak membaca karya orang lain merupakan salah satu cara untuk bersahabat dengan diksi. Tapi kita jangan terjebak melakukan tindak plagiat.
Sementara cara lain yang cukup efektif adalah dengan terus menulis. Berusaha mempertahankan ide kedalam kata-kata sehingga pemakaian diksi kita semakin mengalami pematangan.
Dan seperti cermin kata dalam cerita merupakan tampilan ide kita agar mampu melihat dengan jernih. Tentu kita tidak ingin memiliki cermin buram kan?”
(Tulisan Ini Di Muat Di Majalah ANNIDA edisi No.8/XV/ 15 April- 15 Mei 2006)
(BCN) yang pernah aku dan kawan-kawan komunitasku selenggarakan yakni ber-ajangsana ke RUMAH DUNIA Sang Cerpenis sekaliber Gola Gong yang terletak di desa Ciloang, Serang Banten pada tanggal Ahad, 15 Januari 2006. Dimana aku sebagai koordinator-nya dalam komunitas ini sebagai planning dalam komunitasKu.
