“Mari kuceritakan seorang anak manusia,” kata angin pada burung-burung.
Angin pun mendesir, bertiup memutar lembut mengusap bulu burung-burung itu ketika sedang bertengger dipepohonan menyambut datangnya pagi.
“Apa? Kisah apa?” Tanya salah seekor burung membuka mata, lalu menguap. Serentak semua burung-burung yang sedang bertengger didahan sambil melompat mengepakan sayap, lalu bernyanyi ketika mendaptkan kabar dari angin.
“Mari….mari ku ceritakan kisah seorang anak manusia,” kata angin lagi.
“Sepagi ini?” Tanya burung-burung lainnya terkejut.
“Baik-baiklah,” kata burung-burung lainnya setuju. Maka angin pun menata diri untuk menyiapkan bahan ceritanya.
“Inilah kisahnya,” kata angin memulai ceritanya.
“Kisah apa? Tanya burung Bul-bul yang baru ikut mendengar.
“ini kisah tentang seorang gadis kecil,” angin membuka cerita. Ketika pertama kali aku melihat gadis kecil itu sedang duduk sendirian dipinggir danau sambil menangisi atas kepergian ibunya yang telah tiada dikarenakan sakit. Sedangkan aku sendiri berputar-putar santai, melenggak ke kanan ke kiri, sambil mengusik daun-daun dengan hembusanku. Lalu gadis kecil itu duduk diatas batu dipinggir danau sambil menatap beningnya air danau tanpa memperhatikan sekelilingnya. Aku terus nelihat gadis kecil itu masih diatas batu. Aku pun mendekati.
Sebenarnya aku ingin berlama-lama memandang dan menemani. Karena tugasku untuk beredar dan membagikan kesejukan kebagian-bagian bumi yang lainnya, aku tinggalkan dia sendirian sore itu. Aku harap bisa bertemu kembali dihari esok. Namun esoknnya aku tidak melihatnya dipinggir danau, walaupun aku sudah mencarinya kemana-mana. Aku pun tak menemukannya juga dalam pengembaraanku untuk mencarinya sejak aku melihatnya dipinggir danau itu.
“Apakah kau pernah bertemu dan melihatnya dipingir danau sedang menangis,” jawab Tanya ketua burung-burung itu akhirnya buka suara.
“Belum! Baru kali ini aku bertemu gadis kecil itu sebelumnya?” jawab angin dengan menyesal.
“Lalu gadis itu masih hidup ? Tanya burung-burng. Angin terdiam sejenak. Lalu melanjutkan ceritanya.
“Sebenarnya aku pernah melihat gadis kecil itu dirumah sakit. Tapi karena rumah sakit itu sangat tinggi dan sangat kokoh, aku tak dapat masuk untuk melihatnya kedalam kamar gadis kecil itu dirawat. Aku tak menyerah begitu saja . Aku terus mencoba nmmencari jalan untuk bisa masuk kekamar itu. Akhirnya aku bisa masuk walaupun melalui lubang angin.
“Di rumah sakit?” kata angin sambil menngusap airmatanya.
“Kenapa?”
“Yang aku dengar dari dokter yang merawatnya. Gadis itu kecelakaan tertabrak mobil ketika akan pulang kerumahnya.”
Angin pun mendesir, bertiup memutar lembut mengusap bulu burung-burung itu ketika sedang bertengger dipepohonan menyambut datangnya pagi.
“Apa? Kisah apa?” Tanya salah seekor burung membuka mata, lalu menguap. Serentak semua burung-burung yang sedang bertengger didahan sambil melompat mengepakan sayap, lalu bernyanyi ketika mendaptkan kabar dari angin.
“Mari….mari ku ceritakan kisah seorang anak manusia,” kata angin lagi.
“Sepagi ini?” Tanya burung-burung lainnya terkejut.
“Baik-baiklah,” kata burung-burung lainnya setuju. Maka angin pun menata diri untuk menyiapkan bahan ceritanya.
“Inilah kisahnya,” kata angin memulai ceritanya.
“Kisah apa? Tanya burung Bul-bul yang baru ikut mendengar.
“ini kisah tentang seorang gadis kecil,” angin membuka cerita. Ketika pertama kali aku melihat gadis kecil itu sedang duduk sendirian dipinggir danau sambil menangisi atas kepergian ibunya yang telah tiada dikarenakan sakit. Sedangkan aku sendiri berputar-putar santai, melenggak ke kanan ke kiri, sambil mengusik daun-daun dengan hembusanku. Lalu gadis kecil itu duduk diatas batu dipinggir danau sambil menatap beningnya air danau tanpa memperhatikan sekelilingnya. Aku terus nelihat gadis kecil itu masih diatas batu. Aku pun mendekati.
Sebenarnya aku ingin berlama-lama memandang dan menemani. Karena tugasku untuk beredar dan membagikan kesejukan kebagian-bagian bumi yang lainnya, aku tinggalkan dia sendirian sore itu. Aku harap bisa bertemu kembali dihari esok. Namun esoknnya aku tidak melihatnya dipinggir danau, walaupun aku sudah mencarinya kemana-mana. Aku pun tak menemukannya juga dalam pengembaraanku untuk mencarinya sejak aku melihatnya dipinggir danau itu.
“Apakah kau pernah bertemu dan melihatnya dipingir danau sedang menangis,” jawab Tanya ketua burung-burung itu akhirnya buka suara.
“Belum! Baru kali ini aku bertemu gadis kecil itu sebelumnya?” jawab angin dengan menyesal.
“Lalu gadis itu masih hidup ? Tanya burung-burng. Angin terdiam sejenak. Lalu melanjutkan ceritanya.
“Sebenarnya aku pernah melihat gadis kecil itu dirumah sakit. Tapi karena rumah sakit itu sangat tinggi dan sangat kokoh, aku tak dapat masuk untuk melihatnya kedalam kamar gadis kecil itu dirawat. Aku tak menyerah begitu saja . Aku terus mencoba nmmencari jalan untuk bisa masuk kekamar itu. Akhirnya aku bisa masuk walaupun melalui lubang angin.
“Di rumah sakit?” kata angin sambil menngusap airmatanya.
“Kenapa?”
“Yang aku dengar dari dokter yang merawatnya. Gadis itu kecelakaan tertabrak mobil ketika akan pulang kerumahnya.”
(Dongeng ini dimuat di Majalah Aku Anak Saleh edisi Tahun XII/ Juli-Agustus 2006/Jumadil Akhir-Razab1427)

No comments:
Post a Comment