Thursday, December 7, 2006

CERMIN KATA-KATA

Beberapa waktu lalu saya menyerahkan cerpen ke teman-teman untuk dikritisi. Entah cerpen yang saya buat baik atau tidak? Layak atau dibuang saja.
Menurut mereka cerpen saya benar-benbar mengecewakan!” Pilihan kata dalam cerpen yang kamu pakai anggak matching. Taburan kata dalam cerpen kamu terlalu baku, harfiah, tekstual dan kaku!”
Begitulah yang terjadi ketika seorang penulis belum piawai memilih dan memilah kata!
Wow! Ternyata pilihan kata atau diksi dalam cerita tidak bedanuya dengan pilihan warna dalam dunia seni rupa: betapa indah lukidan jika dalam komposisi warnanya tepat. Ia menjadi jiwa dalam tema yang kita bidik dan tiap-tiap kata hendaknya mampu mewakili setiap adengan. Tidak berlebihan seorang Joni Araiadinta mengatakan “penulis itu harus menenal dan mengusai betul arti kata yang digunakan agar tidak mengecewakan pembacanya!”
Hal ini yang lazim dalam dunia sastra, banyak penulis-penulis besar berulang kali mencoret naskahnya. Bahkan tidak jarang mereka membuang ke tong sampah setelah susah payah menulis. Sebabnya sipenulis itu tidak puas melihat dan merasakan kata-kata yang ditulisnya. Ia merasa belum berhasil memindahkan Susana cerita kedalam rangkaian kata. Disinilah penulis menyadari bahwa seorang pembaca akan mendapat nuansa lain tentang cerita saat dirinya mampu memilih kata dengan tepat.
Menurut saya, sah-sah saja kita menggunakan kata-kata piuits, metafora, hiperbola atau bersifat etnis, religi, sains hingga penggunan kata sehari-hari agar cerita lebih dekat denga pembacanya.
Hal lain yang harus diperhatikan sebaiknya kita hati-hati dengan kata yang tidak menguatkan cerita. Kata yang terangkai dalam kaimat panjang juga akan membosankan dan membuat cerita sama sekali tidak “bertenaga.’
Ok! Mulai sekarang sebaiknya kata tidak bisa kita anggap sebagai ”tetangga” tetapi harus dikenal secara “sahabat” agar ia menjadi hidup dengan sendirinya! Bagi kita harus banyak membaca karya orang lain merupakan salah satu cara untuk bersahabat dengan diksi. Tapi kita jangan terjebak melakukan tindak plagiat.
Sementara cara lain yang cukup efektif adalah dengan terus menulis. Berusaha mempertahankan ide kedalam kata-kata sehingga pemakaian diksi kita semakin mengalami pematangan.
Dan seperti cermin kata dalam cerita merupakan tampilan ide kita agar mampu melihat dengan jernih. Tentu kita tidak ingin memiliki cermin buram kan?”


(Tulisan Ini Di Muat Di Majalah ANNIDA edisi No.8/XV/ 15 April- 15 Mei 2006)

ANGIN DAN BURUNG-BURUNG

“Mari kuceritakan seorang anak manusia,” kata angin pada burung-burung.
Angin pun mendesir, bertiup memutar lembut mengusap bulu burung-burung itu ketika sedang bertengger dipepohonan menyambut datangnya pagi.
“Apa? Kisah apa?” Tanya salah seekor burung membuka mata, lalu menguap. Serentak semua burung-burung yang sedang bertengger didahan sambil melompat mengepakan sayap, lalu bernyanyi ketika mendaptkan kabar dari angin.
“Mari….mari ku ceritakan kisah seorang anak manusia,” kata angin lagi.
“Sepagi ini?” Tanya burung-burung lainnya terkejut.
“Baik-baiklah,” kata burung-burung lainnya setuju. Maka angin pun menata diri untuk menyiapkan bahan ceritanya.
“Inilah kisahnya,” kata angin memulai ceritanya.
“Kisah apa? Tanya burung Bul-bul yang baru ikut mendengar.
“ini kisah tentang seorang gadis kecil,” angin membuka cerita. Ketika pertama kali aku melihat gadis kecil itu sedang duduk sendirian dipinggir danau sambil menangisi atas kepergian ibunya yang telah tiada dikarenakan sakit. Sedangkan aku sendiri berputar-putar santai, melenggak ke kanan ke kiri, sambil mengusik daun-daun dengan hembusanku. Lalu gadis kecil itu duduk diatas batu dipinggir danau sambil menatap beningnya air danau tanpa memperhatikan sekelilingnya. Aku terus nelihat gadis kecil itu masih diatas batu. Aku pun mendekati.
Sebenarnya aku ingin berlama-lama memandang dan menemani. Karena tugasku untuk beredar dan membagikan kesejukan kebagian-bagian bumi yang lainnya, aku tinggalkan dia sendirian sore itu. Aku harap bisa bertemu kembali dihari esok. Namun esoknnya aku tidak melihatnya dipinggir danau, walaupun aku sudah mencarinya kemana-mana. Aku pun tak menemukannya juga dalam pengembaraanku untuk mencarinya sejak aku melihatnya dipinggir danau itu.
“Apakah kau pernah bertemu dan melihatnya dipingir danau sedang menangis,” jawab Tanya ketua burung-burung itu akhirnya buka suara.
“Belum! Baru kali ini aku bertemu gadis kecil itu sebelumnya?” jawab angin dengan menyesal.
“Lalu gadis itu masih hidup ? Tanya burung-burng. Angin terdiam sejenak. Lalu melanjutkan ceritanya.
“Sebenarnya aku pernah melihat gadis kecil itu dirumah sakit. Tapi karena rumah sakit itu sangat tinggi dan sangat kokoh, aku tak dapat masuk untuk melihatnya kedalam kamar gadis kecil itu dirawat. Aku tak menyerah begitu saja . Aku terus mencoba nmmencari jalan untuk bisa masuk kekamar itu. Akhirnya aku bisa masuk walaupun melalui lubang angin.
“Di rumah sakit?” kata angin sambil menngusap airmatanya.
“Kenapa?”
“Yang aku dengar dari dokter yang merawatnya. Gadis itu kecelakaan tertabrak mobil ketika akan pulang kerumahnya.”

(Dongeng ini dimuat di Majalah Aku Anak Saleh edisi Tahun XII/ Juli-Agustus 2006/Jumadil Akhir-Razab1427)

Sunday, December 3, 2006

KOK SALAM TEMPELNYA SERIBU, OM?"

Namanya juga anak-anak kadang-kadang membuat kita jengkel, marah dan mengernyitkan dahi dengan segala polahnya. Seperti halnya dengan yang aku alami saat Lebaran kemarin. Aku kedatangan para “pasukan super rese.” Begitu aku menyebutnya untuk keponakan-keponakanku yang nakal-nakal (tapi mengemaskan) itu. Memang kalau mereka itu bertandang kerumah pasti saja mereka bikin ulah dirumah. Rumah kami pasti mereka sulap menjadi kapal pecah. Yup, begitu jika para pasukan rese itu bertandangan kerumahku. Mau dikata apa toh mereka itu keponakan aku juga. Mau dicubit nanti nangis, mau di jewer keponakan aku juga....terus mengadu pada orang tuanya. Lalu aku yang lantas dimarahi dan dinasehati sama kakak-kakakku. Dasar nasib beginilah menjadi Om! Dikasih nasehat dan pengertian sama keponakannya malah sebaliknya! Om-nya yang kena dikasih nasehat sama orangtuanya. Apes!
Pukul sepuluh pagi lewat, saat kami sekeluarga menyelesaikan ritual hari Raya Idul Fitri 1427 H : shalat Ied, bersalam-salaman dan menyekar ke makam keluarga, lalu kembali ke rumah tiba-tiba pasukan super rese itu bertandangan kerumahku. Maklumlah rumahku yang paling dituakan dikeluaraga (baca: nenek). Jadi segala aktivitas menyabut Lebaran kali ini semua disentralkan di rumahku. Ditambah para pasukan rese itu (baca: anak-anak dari kakak-kakakku ) dirumah. Klop! Tambah ramai. Dan tambah bising!
“Assalamualikum……,” koor para tamu tak undang. Tak lain tak bukan pasukan super rese berdatangan kerumahku bersama induk-induknya (orangtuanya) .
“Waalaikumsalam……,” sambut kami sekeluraga. Dan kami pun saling berpelukan satu sama lain. Bertumpah ruah menjadi satu untuk mengeluarkan segala maaf yang ada dihati masing-masing. Aku pun juga tak mau ketinggalan untuk meminta maaf pada kakak-kakakku yang sudah banyak membuat ulah dan menyusahkan mereka sewaktu aku kecil dulu. Tapi situasi itu tak berlangsung lama. Saat aku lagi sedang asyik-asyiknya besalam-salaman pada kakak-kakkakku tiba-tiba bajuku ada yang menarik-narik. Aku pun jadi tak leluasa untuk bergerak akhirnya aku pun menoleh siapa yang menarik-narik bajuku. Ternyata yang menarik bajuku itu adalah keponakan-keponakanku dengan tatapan seperti debt collector sambil menengadah tangannya.
“ Om …om…, bagi duitnya dong? Kok, Om nggak ngasih duit kekita-kita kayak nenek! Om , pelit nih…,” serentak suara gaduh para keponakanku. Menagih gilirannya. Tak lain meminta uang kepadaku.
“Ya, ya sebentar nanti Om ambil duitnya dulu,” kataku sambil masuk kedalam kamar.
“Nih, Om kasih! Tapi Amri. Izal, Maulana, Prita, Ratna, Sayuti dan Danang jangan berisik lagi ya?” sambil mengabsenin mereka satu-satu tanganku menutup mulut agar para pasukan rese ini mau menurutinya. Karena aku sudah tak tahan dengan suara ember pecah dari mereka. Bikin telinga pecah!
“Baik, baik Om,” jawabnya serentak sambil berbaris rapi. Seperti orang mengantri tiket.
“Oke, sekarang semua berbaris yang rapi!” seruku. Akhirnya mereka pun mau menuruti dan meniruku walau terpaksa mereka lakukan karena aku akan membagi uang kepada mereka.
“Sekarang Om memanggil yang lebih gede dulu ya? Nanti baru menyusul yang kecil-kecil.”
Tidak beberapa lama kemudian setelah acara pembagian salam tempel itu usai apa yang terjadi saat aku memberi uang kepada mereka. Mereka pada memprotes diriku. Apalagi yang paling vocal adalah keponakanku yang kecil-kecil memprotes kepadaku.
“Lho, Om kok salam tempelnya seribu? Dapat apaan nih kalau Om kasih duitnya cuma seribu,” koor mereka memprotes segala ketidaknyaman terhadap pembagian salam tempel.
“Ya, namanya juga Om nggak kerja jadi Om bisanya cuma ngasih seribu,” jawabku serba salah. Mau dikata apa aku tak bisa memberi lebih untuk mereka. Itu pun juga aku lakukan agar mereka senang. Daripada tidak!
“Kalau begitu Lebaran besok kita jangan minta duit lagi sama Om Iyan! Ngasihnya cuma seribu!” timpal polos keponakanku yang paling kecil. Namun aku hanya bisa tersenyum pada mereka. Ternyata mereka juga bisa mengeluarkan pendapatnya masing-masing. Tidak melempen. Diberi diam saja. Ya, walau itu tidak enak didengar.
Begitulah hari Raya Lebaranku kepada keponakan-keponakanku yang super nakal tapi menggemaskan dan merindukan hati. Walau pada hari Raya kali ini terjadi insiden yang hampir aku tak kuat meladeni mereka karena begitu pro-aktifnya mereka dalam pembagian salam tempel***
(Tulisan ini dimuat di Milist Sekolah-Kehidupan.Com sebagai Artikel Terpilih Setiap Bulannya)

Friday, December 1, 2006

AKU, GOLA GONG DAN KAWAN-KAWAN KOMUNITASKU BENGKEL CERPEN NIDA (BCN) DALAM AJANGSANA KE RUMAH DUNIA

Inilah kegiatan KomunitasKu Bengkel Cerpen Nida (BCN) yang pernah aku dan kawan-kawan komunitasku selenggarakan yakni ber-ajangsana ke RUMAH DUNIA Sang Cerpenis sekaliber Gola Gong yang terletak di desa Ciloang, Serang Banten pada tanggal Ahad, 15 Januari 2006. Dimana aku sebagai koordinator-nya dalam komunitas ini sebagai planning dalam komunitasKu.
Ya, yang namanya seorang (calon) penulis bila bertemu dengan idolanya (tokohnya) paling-paling yang dibicarakan tidak jauh-jauh yaitu seputar dunia kepenulisan. Bagaimana seorang Gola Gong mendapatkan ide brilian-nya--sehingga menjadi masterpice-nya di dunia sastra dalam karya-karyanya. Namun dari itu semua dikembalikan lagi kepada masing individu-nya apakah ia mau terus, terus dan terus belajar menjadi seorang penulis sejati yang selau menghargai orang lain. Atau, tidak? Hanya dirinya yang tahu? Untuk apa ia menulis dan berkarya? Mencari ketenaran-kah? Mencari kepuasan bathin-kah? Atau, jangan-jangan mencari materi? Semua itu hanya seorang penulis yang tahu untuk apa ia menulis.
Itulah sebuah catatatKu dalam perjalanan ke kediaman cerpenis yang aku banggakan atas karya-karyanya!
(KenanganKu Saat Ajangsana di Rumah Dunia Gola Gong, Ahad,15 Januari 2006 Bersama KomunistasKu BCN)

AKU, DEWI LESTARI DAN PARA PEMENANG LOMBA PENULISAN CERPEN NON FIKSI "CERITAMU MATAMU 2, AGUSTUS 2006" DI TABLOID WANITA INDONESIA

Ternyata kepintaran seseorang bukan terletak dari ia pandai berkata-kata maupun merangkai kalimat melainkan ia bisa beradu nasib dengan kenyataan. Begitu juga dengan diriku yang tak sengaja bisa menjadi salah satu pemenang harapan (finalis) di saat perlombaan penulisan cerpen non fiksi pada bulan Agustus 2006 yang diadakan oleh sebuah tabloid di Indonesia yang sudah cukup punya nama yakni : Tabloid New Spirit Wanita Indonesia.
Dimana aku bisa disejajarkan oleh para penulis handal semacam mereka. Padahal aku apalah hanya seorang penulis amatiran yang baru merintis menjadi penulis. Tidak halnya dengan mereka yang sudah bergelut dan makan asam-garam dalam ilmu tulis-menulis. Tapi aku apalah?
Namun aku sangat bersyukur kepada Tuhan yang masih sayang padaku (makhluk-Nya) hingga aku diberikan ke-istimewaan dari-Nya yaitu diberikan aku nikmat-Nya sebagai salah satu pemenang harapan lomba penulisan cerpen non fiksi. Ya, walaupun hanya pemenang harapan tetapi bagiKu itu sangat dan sangat langka dalam hidupKu! Seperti prinsipKu "Orang Lain Bisa Kenapa Aku Tidak?" Itulah yang menjadi dasar aku terus, terus dan terus belajar dan selalu menghargai karya orang lain! Semoga apa-apa yang aku impikan ini semoga Tuhan mau memberikannya yang terbaik untuk hamba-Nya semacam aku ini. Terima kasih aku ucapkan Tuhan, aku sangat bersyukur atas nikmat-Mu yang Kau berikan kepadaKu!
(KenanganKu saat menjadi pemenang Lomba Penulisan Cerpen Non Fiksi "CeritaMu MataMu 2, Agustus 2006" di Tabloid New Spirit Wanita Indonesia)